subhanallah walhamdulillah walaa illaha illallah wallahuakbar
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

Wisata ke Masjid Kubah Mas, Depok


Ibuku sudah lama banget ingin ke masjid Kubah Emas (masjid Dian) di Depok.
Akhirnya kesampaian juga. Kami ke sana setelah arisan keluarga di Sawangan.
Padahal, tadinya ibuku itu sudah gak mau ikut ke arisan keluarga karena capek.
Karena sehari sebelumnya anak cucunya semua kumpul di rumahnya dan kami bikin acara keluarga.

Waktu aku ajak, suaranya lemes banget.
Sudah gak mau ikut. Setelah aku rayu-rayu baru mau berangkat.
Awalnya kami gak ada rencana ke mesjid Kubah Emas.
Tapi karena ibuku tau kalau masjid itu sudah dekat Sawangan, maka beliau ganti merayu kami untuk pergi ke Kubah Emas.

Di areal masjid Kubah Emas kami berfoto-foto.
Untuk berfoto kami jalan cukup jauh untuk mendapatkan background mesjid yang paling pas.
Mana panasnya audzubillah...

Aku berdoa mudah-mudahan ibuku gak apa-apa.
Setelah foto-foto itu kami ingin melihat dalamnya mesjid, tapi sayang ibuku sudah gak kuat naik tangganya lagi. Dan lagi masuk pelataran mesjid, kami sudah harus lepas alas kaki. Padahal lantainya panas. Aku bilang pada kakakku, "Gimana ya kalau di Padang Mashar? Segini aja kita udah loncat-loncat kaki kepanasan."
Penjaga tangga dan pintu mesjid, wanita-wanita berjubah hitam kayak di tanah suci.
Mereka juga streng, memperhatikan orang-orang yang naik tangga dan yang akan masuk mesjid. Alas kaki harus dilepas dan gak boleh dimasukkan dalam tas, harus dititipkan di tempat penitipan. Laki-laki gak boleh lewat tangga wanita, mereka ada jalurnya sendiri, yaitu di kanan-kiri mesjid. Wanita yang masuk juga harus tertutup auratnya.

Aku dan kakakku masuk ke mesjid, sedang ibuku tunggu di tangga ditemani pelancong lain.
Dalamnya bagus banget dengan lampu kristal dari Itali yang beratnya sampai 8 ton itu. Mimbarnya berlapis emas.
Setelah selesai sholat kami mau pulang. Tapi ibuku minta aku, antarkan untuk masuk mesjid, maka dicoba sekali lagi, ternyata setelah naik tangga ibuku sudah gak tahan, capek banget. Kasihan ibuku...
Beliau bilang, " Di blog (komputer) kamu ada kan gambar dalamnya mesjid?" Aku bilang, "Ada."
"Ya udah nanti lihat di blog kamu aja."
Lalu kami benar-benar pulang. Duh kayaknya perjalanannya jauuuuh banget, gak nyampe-nyampe. Banyak bis wisata yang akan atau dari mesjid Kubah Emas.
Memang orang yang datang ke sana banyak banget.

Makanya kami enggan ke masjid itu, karena kata orang rame banget.
Tapi yang gak direncanaiin malah terjadi. Dan ini sudah kehendak Allah.
Alhamdulillah.. keinginan ibuku pun tercapai, dan kamipun jadi pernah kesana melihat keagungan masjid Kubah Emas, Dian al Mahri, Depok.
read more “Wisata ke Masjid Kubah Mas, Depok”

Rabu, 13 Mei 2009

Masjid AL - AQSHA, Kudus



Masjid Al Aqsha dikembangkan dari rumah tradisional



Kudus tidak hanya dikenal dengan industri rokok dan jenangnya.
Kota yang terletak di jalur pantai utara pulau Jawa ini menyimpan peninggalan sejarah Islam.
Salah satunya adalah Masjid "Menara" Kudus atau yang bernama asli Masjid Al - Aqsha.

Masjid "Menara" Kudus terletak di desa Kauman, Kabupaten Kudus dan dapat dikunjungi setiap hari.
Masjid kuno ini dibangun oleh Ja'far Shodiq atau yang terkenal sebagai Sunan Kudus - salah satu Sembilan Wali atau penyebar agama Islam di Jawa - pada tahun 1685.
Yang menarikdari mesjid Kudus adalah bentuk bangunan menaranya yang unik.
Maka masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid "Menara" Kudus.

Di samping menara, bagian unik Masjid Kudus adalah sepasang gerbang purba yang justru terdapat di ruang dalam masjid. Konon, itulah sisa gerbang masjid Kudus yang asli, disebut "Lawang Kembar". Tak jauh dari masjid ini terdapat makam Sunan Kudus, masih dalam lingkungan komplek mesjid.

Menara bercorak Jawa-Hindu yang terletak di sisi kanan depan mesjid Kudus, sebenarnya adalah kimpleks candi "Menara Kudus" yang dibangun pada masa kerajaan Majapahit.
Biladiperhatikan menara Kudus arsitektur bangunannya mirip dengan candi Singosari dan Bale Kul-Kul di BAli.

Ceritanya...
Sebelum Demak berkembang menjadi pusat kerajaan Islam di pesisir utara, Kudus telah berkembang sebuah komunitas Hindu yang disebut "Tajug" dan tunduk pada kekuasaan pemerintahan kerajaan Majapahit.
Pada masa Majapahit tersebut candi-candi mulai dibangun yang berlokasi di komplek Masjid Kudus sekarang ini. Namun, pada saat komplek candi "Menara Kudus" dibangun, umat Hindu meninggalkannya begitu saja, walaupun belum selesai.
Kemudian, setelah Sunan Kudus berkuasa di daerah ini dan ditandai dengan pembangunan sarana masjid namun arsitektur bermotif timur tengah atau Arab nyaris tidak dikembangkan. Karena itu, hampir semua mesjid di Kudus adalah bangunan Tajug yangdikembangkan dengan ilham dalem ageng pada rumah tradisional Kudus mirip wantilan di BAli. Atap tajug lambang ceplok ini memuncak bersusun tiga mirip meru.

Kudus, 52 km timur Semarang atau 30 km timur Demak, sangat terlihat berciri kota kuno Islami dengan berbagai bentuk bangunan khas dan dikategorikan sebagai cagar budaya.

Sunan Kudus
Sunan Kudus bernama asli Ja'far Shodiq. Dia adalah putra dari Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung dari Jipang. Semasa hidupnya, Sunan Kudus dikenal sebagai seorang ahli dalam ilmu tauhid, usuluddin (asal-usul agama), hadits dan fikih (hukum Islam) dan juga seorang penyair dan filsuf.---karyanya yang terkenal adalah gending Maskumambang dan Mijil.
Beliau diperkirakan meninggal dunia pada tahun 1550 Masehi dan dimakamkan di belakang Masjid Al Aqsha yang lebih terkenal dengan nama Masjid Menara Kudus.
Sumber: Nuansa
read more “Masjid AL - AQSHA, Kudus”